Mencintai
adalah fitrah untuk seorang manusia, apalagi Allah ciptakan manusia dari
laki-laki dan perempuan untuk saling mengenal dan berpasang-pasangan. Surat Ar-Rum ayat 21 yang artinya “Dan di
antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”
Dan karena
mencintai dan dicintai adalah wajar untuk seorang muslim maupun muslimah, maka
tak jarang jika didapati hati yang jatuh teruntuk seseorang yang mungkin dikenal
atau bahkan tidak dikenal, baik secara sengaja atau tidak sengaja. Hal itu
wajar sebagai fitrah manusia dan cintanya. Sebagai seorang muslimah sejati
tentunya tidak bisa semaunya mempermainkan rasa dalam cinta. Cinta membutuhkan waktu yang tepat untuk bisa
menyatukan dua hati yang berbeda. Dan
tentu ketika seorang muslimah jatuh cinta, maka ia harus hati-hati dengan
perasaan dan hatinya agar tidak terluka atau bahkan terjerumus dalam kesalahan
yang hina. Naudzubillah.
Seorang
muslimah jika sudah jatuh cinta, perasaan akan tetap ada dan tumbuh kepada
seseorang yang mungkin menjadi idamannya.
Dan terkadang seorang muslimah lebih memilih diam daripada mengumbar.
Lebih memilih lapang meski terasa sesak dalam dada. Jika begitu, bukankah muslimah itu kuat
bukan? Namun tak jarang juga dari mereka mengumbar bahkan melakukan hal yang
tidak seharusnya dilakukan oleh seorang muslimah, seperti pacaran, atau bahkan
mengenal dekat dengan chat chit di sosial media, meski statusnya bukan untuk
pacaran. Lalu jika begini, apa bedanya dengan pacaran pada umumnya?. Padahal
setiap dari kita mengerti bahwa pacaran dan berhubungan dengan non mahrom
adalah haram, apapun bentuknya.
Bagiku, dalam
bercinta untuk muslimah alangkah baiknya diam atau menyatakan. Diam untuk
memendam dan mencinta sewajarnya saja. Seperti kisah Ali dan Fathimah yang
bersatu dalam pelaminan dengan ikhtiar dan doa yang selalu menguatkan. Maka itu harus ada ikhtiar dan doa sebagai
proses indah tuk menggapainya. Seorang muslimah jika hatinya diam untuk tidak
mengatakan tentu adalah pilihan, dan konsekuensinya jika diam membuat hatinya
berkeinginan untuk memiliki dan berharap besar, hal ini terjadi jika ia tidak
bisa mengontrol rasanya. Namun ada juga seorang muslimah yang mampu mengontrol
rasa cinta dan kagumnya maka ia akan menjaga semua itu dengan menyertakan cinta
dan kasihnya kepadaNya melalui keheningan doa yang dipanjatkannya setiap saat.
Dan tentu ketika melibatkan segalanya kepadaNya tidak akan ada rasa sesal dan
keputus asaan yang membuatnya mementingkan rasa daripada muamalah padaNya jika
kelak tak ada satu usai temu.
Dan cinta
untuk menyatakan guna kepastian, inilah cara mengungkapkan perasaan agar tak
lagi terjajah dalam rasa. Karena jika tak kuat untuk bercinta dalam diam, maka lebih baik
mengungkapkan. Dan dalam mengungkapkan cinta bukan berarti bolehnya berkhalwat
antara laki-laki dan perempuan, tapi mengungkapkan disini adalah menyatakan
perasaan untuk menjalin lebih dalam hubungan menuju pelaminan layaknya Khadijah
kepada Muhammad melalui perantara, Ya, ketika Khadijah menyuruh seseorang bahwa
dirinya menawarkan kepada Muhammad. Bukankah itu jauh lebih baik daripada
menyatakan secara individual dengan 4 tatap mata sekalipun berada ditempat yang
mewah. Dalam hal ini, perihal diterima ataupun tidak cinta seorang muslimah
oleh seorang lelaki yang dicintai bukanlah menjadi prioritas. Karena jika
diterima, tentu seorang lelaki dan perempuan harus sama-sama siap menjalin
hubungan yang lebih serius lagi, karena menyatakan cinta bukan jalan untuk
saling berkomitmen tanpa status pacaran. Namun jika jawabannya adalah tidak
atau ditolak, maka seorang muslimah tidak boleh larut dalam kesedihan yang
terus menerus, namun ia harus tetap semangat dengan kehidupannya, dan mencoba
berdamai dengan dirinya. Dan tentunya, ia harus meyakinkan dirinya bahwa semua
akan baik-baik saja dengan rencanaNya.
Lain halnya
jika seorang muslimah yang masih merasa belum baik-baik saja dalam cintanya,
maka ia telah berharap dengan selainNya dengan berlebihan karena sejatinya
berharap diperbolehkan untuk seorang muslimah asal tidak melebihi cintanya
kepadaNya. Dan ketika rasa cinta seorang muslimah ini melebihi rasa cinta
kepadaNya, maka Allah jauhkan seseorang yang dicintainya dari hadapannya.
Karena Allah pun bisa cemburu bukan?? Kembali lagi kepada kisah inspiratif
terdahulu, kisah Yusuf dan Zulaikha lagi-lagi menginspirasi kita khususnya
muslimah bahwa berharap kepada selainNya akan membuat hati merasa terluka
bahkan harapan bisa menjadi lebih dan lebih, Namun ketika Allah dilibatkan
dalam kisah cinta dan kasih, tanpa perlu mengejar, Allah datangkan cinta
diwaktu yang tepat dengan jalan dan proses yang indah. Taaruf adalah proses
pengenalan antara wanita dan pria untuk saling mengenal, adapun jika cocok
antara dua insan yang bertaaruf maka akan berujung pada pernikahan. Namun jika tidak, maka tentu akan lebih mudah
melepas karena belum ada rasa yang dalam layaknya wanita dan lelaki yang
mengenal tanpa melalui jalur taaruf. Dan tentunya taaruf harus dilakukan
melalui perantara seorang sebagai penengah untuk mencegah terjadinya sesuatu
yang tidak diinginkan.
Perlu
diketahui, menjadi muslimah tidak hanya pintar dalam menyembunyikan rasa (jika
dirasa itu lebih baik), namun ia juga harus menjaga. Menjaga kehormatannya
sebagai seorang muslimah yang tentunya tidak hanya dalam puji ia berharap, dan
dalam jaga menjadi wanita muslimah sejati, namun ia juga harus bertahan dalam
sabar dan tabah jika cita dan cinta tak lagi menetap pada dirinya. Karena apapun
itu, Tuhan sedang berencana, dan rencanaNya tentu jauh lebih indah, bahkan
terkadang dengan skenario yang tak terduga-duga. Karena itu percayalah dengan
ketentuanNya, dan jadilah muslimah yang mampu membuat orang lain menginginkan
tanpa membuat sesal, jadilah wanita yang mahal dengan penjagaan yang membuat
orang tak lagi memandang dan dipandang, dan jadilah wanita yang meraih cinta
dan cita bersama masa depan yang mengundang.
by : Taaibah Ngaunillah R
Comment, Share and Save :)